Selasa, 08 September 2009

Sudah Kejatuhan, Tertimpa ............. Teman

0
Brad Davis, seorang pemuda usia 25 tahun asal Milledgeville, Amerika Serikat, beberapa minggu yang lalu masuk ke rumah sakit setelah berburu. Tiga tulang rusuknya patah. Kenapa?
Begini ceritanya : Saat itu ia sedang berburu racoon bersama temannya. Mereka melihat hewan berbulu itu di atas pohon. Temannya memanjat pohon itu untuk memukulnya. Buk! Kena! Sang racoon yang malang itu pun terjatuh dari ketinggian 20 meter. Celakanya, bukan jatuh ke tanah tapi jatuh tepat di atas David. Bruk! Itu belum apa - apa . Tak lama kemudian,  ada suara krak dan bruk lagi. Kali ini lebih keras, karena yang jatuh adalah kawan David. dan jatuhnya lagi -lagi tepat di atas pundak david yang masih kesakitan Akibatnya yaa masuk rumah sakitlah.

Save Our Earth from Global Warming

0

Nowdays, we often use global warming technical in many discussions and news. Do you know global warming? Global warming is the increase in the average temperature of the Earth's near-surface air and oceans since the mid-twentieth century and its projected continuation. The global warming phenomena caused by greenhouse gas emissions.
Greenhouse gases are gases in an atmosphere that absorb and emit radiation within the thermal infrared range. This process is the fundamental cause of the greenhouse effect. Common greenhouse gases in the Earth’s atmosphere includes water vapor, carbon dioxide (CO2), methane (CH4) , nitrous oxide (NO), ozone (O3) , and chlorofluorocarbons (CFCs).
Greenhouse gases, mainly water vapor, are essential to helping determine the temperature of the Earth; without them this planet would likely be so cold as to be uninhabitable. Although many factors such as the sun and the water cycle are responsible for the Earth's weather and energy balance, if all else was held equal and stable, the planet's average temperature should be considerably lower without greenhouse gases. Human activities have an impact upon the levels of greenhouse gases in the atmosphere, which has other effects upon the system, with their own possible repercussions. For example, agriculture, industrial, animal husbandry, burning of fossil fuels, use of chlorofluorocarbons (CFCs) in refrigeration systems, illegal logging, etc.
Why peoples in the world often talk about global warming? Because many affects that caused by global warming.
First, global warming makes the climate change. When the climate changes, there may be big changes in the things that people depend on. These things include the level of the oceans and the places where we plant crops. They also include the air we breathe and the water we drink. Climate change may affect people’s health, for example asthma, allergies, and heat stress. 
Second, global warming affects many extreme weather events. There are many extreme weather events that may be attributed to global warming, flood, droughts, heat waves, extreme winter cold and snow fall, tornadoes, extreme storms, tropical cyclones / hurricanes / typhoons.
Third, global warming make the sea level become higher. Warmer weather makes glaciers melt. A glacier is a large sheet of ice that moves very, very slowly. Some melting glaciers add more water to the ocean. Warmer temperatures also make water expand. When water expands in the ocean, it takes up more space and the level of the sea rises. Sea level may rise between several inches and as much as 3 feet during the next century.
Fourth, global warming changes the ecosystems and habitats. Because temperatures warm, species may either move to a cooler habitat or die. Species that are particularly vulnerable include endangered species, coral reefs, and polar animals. Warming has also caused changes in the timing of spring events and the length of the growing season.
Fifth, sea-surface temperatures are warming. Warmer waters in the shallow oceans have contributed to the death of about a quarter of the world's coral reefs in the last few decades. Many of the coral animals died after weakened by bleaching, a process tied to warmed waters.
Sixth, seawater is becoming more acidic. Carbon dioxide dissolving into the oceans is making seawater more acidic. There could be impacts on coral reefs and other marine life. And many affect that global warming cause.
We must save our earth from damage because we who causing the earth like this. We can save it with the simple activities. For example, reduce the use of fossil fuels. We can change the fossil fuels with biogas, biofuel, bioethanol, and biodiesel. Don’t burning the rubbish. Use bicycle than car or motorcycle. Plant our empty area with tree. Reduce eat meat because animal husbandry provide the biggest greenhouse gas emissions.

Menyegarkan Persatuan Bangsa

0

Kita sangat bersyukur bahwa kemerdekaan negara yang kita cintai, Republik Indonesia, dihasilkan bukan sebagai pemberian gratis dari penjajah, tetapi kita rebut melalui perjuangan besar bangsa bermodalkan upaya yang gigih dengan mempersatukan anak bangsa yang beraneka ragam latar belakangnya. Upaya mempersatukan anak bangsa itu mencapai puncaknya tatkala Founding Fathers Bangsa Indonesia, Mas Ngabehi Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Sutomo mendirikan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Pendirian Boedi Oetomo itu diikuti berdirinya Serikat Islam di Solo pada tahun 1912. Munculnya kedua organisasi itu memberi inspirasi tumbuhnya berbagai lembaga serupa dalam berbagai aneka bentuknya di seluruh Indonesia

Tumbuhnya berbagai organisasi atau lembaga tersebut mulai mewarnai niacin menebalnya semangat nasioanalisme dan kebangsaan dengan wawasan yang tinggi dan lebih luas.Duapuluh tahun kemudian, sekitar tahun 1928, anak-anak muda seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lainnya, mulai memainkan peranannya menyebar luaskan semangat nasionalisme dan semangat kebangsaan tersebut. Seri tulisan Bung Karno dan kawan-kawannya melalui media massa seperti Suluh Indonesia Muda, Panji Islam, Pembangun, dan lainnya, menjadi acuan bagi anak muda pejuang pada masa itu.

Menarik diamati bahwa topik yang menjadi pembicaraan hari ini, sudah ditulis oleh Bung Karno mulai tahun 1926, atau barangkali sebelumnya. Bahkan Bung Karno menulis bahwa pembahasan tentang nasionalisme, kebangsaan dan bangsa telah dibahas oleh para ilmuan sejak tahun 1882. Mengutip tulisan Bung Karno, menurut pendapat seorang pujangga Ernest Renan, bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas akal, yang terjadi dari dua hal, pertama, rakyat itu dulunya harus menjalani suatu riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, dan keinginan hidup menjadi satu. Menurut pujangga Ernest Renan itu, pengertian suatu bangsa bukan sekedar kesamaan jenis ras, jenis bahasa, agania, persamaan kebutuhan, atau batas-batas negeri saja.

Menurut Bung Karno, pendapat Renan itu diperkuat oleh ahli-ahli lain seperti Karl Kautasky dan Karl Radek, utamanya juga oleh Otto Bauer yang mempelajari secara mendalam masalah bangsa itu. “Bangsa adalah suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal-ihwal yang telah dijalani oleh rakyat itu “. Sedangkan nasionalisme adalah suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu satu golongan, satu “bangsa” ! Tekad dan motivasi inilah yang dianggap oleh Bung Karno menjiwai Boedi Oetomo dan lembaga serta organisasi lain yang secara serentak bangkit membangun persatauan dan kesatuan dari anak-anak bangsa yang berbeda latar belakangnya.

Pembicaraan tentang persatuan, nasionalisme dan kebangsaan itu tidak pernah berhenti. Dua tahun kemudian, pada bulan Agustus 1928, sewaktu menanggapi tulisan H. Agus Salim, Bung Karno kembali menulis bahwa para aktifis pergerakan harus berbesar hati karena semangat persatuan sudah merambah kemana-mana. Semangat itu mewarnai berdirinya klub-klub studi di kota-kota pendidikan seperti Bandung dan Surabaya, dan juga gerakan kepanduan pada waktu itu. Semangat persatuan, menurut Bung Karno, menjadi alas dan sendi yang teguh Partai Politik seperti PNI. Semangat persatuan itu juga menjadi roh dan penuntun bagi berdirinya dan geraknya Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Setelah Bung Karno menjabat sebagai Presiden, baik melalui pidato maupun langkah-langkah politiknya, kita melihat upaya yang gigih menuangkan roh persatuan, nasionalisme dan kebangsaan tersebut dalam membangun bangsa. Pada jaman Pak Harto kita melihat juga usaha yang dilakukan sama gigihnya. Setidaknya ada tiga hal tentang persatun dan kesatuan yang ditekankan kepada masyarakat. Pertama, adanya kenyataan sejarah perjuangan bersama melawan penjajahan merebut kemerdekaan. Kedua, adanya konsepsi Wawasan Nusantara yang menyatukan tanah air dan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Dan ketiga, konsekwensi logis dari kedua kenyataan tersebut. Pak Harto melihat bahwa pengalaman historis perjuangan yang berat melawan penjajah, seperti juga diungkap oleh para sesepuh pendiri bangsa, telah berhasil mengatasi perbedaan ras, agama dan latar belakang lainnya.

Dalam hubungan ini jelas bahwa Pak Harto, sejak awal kepemimpinannya tidak menghendaki sebuah masyarakat Indonesia yang membesar-besarkan perbedaan yang ada. Pak Harto selalu mendambakan persatuan dan kesatuan biarpun untuk itu harus sabar menunggu dengan melakukan musyawarah untuk mufakat dalam waktu yang relative lama. Namun dapat dicatat bahwa sekali konsensus dan persatuan dan kesatuan itu tercipta, Pak Harto akan memeliharanya dengan tekun, sungguh-sungguh dan kalau perlu dengan tegas menindak pengganggunya. Latar belakang sebagai orang Jawa dan militer memberi Pak Harto kemampuan memimpin pemeliharaan dan pengembangan persatuan dan nasionalisme yang menarik. Dalam menghadapi gangguan persatuan yang bersifat SARA, suku, agama, ras, aliran/golongan, latar belakang militer yang dimilikinya memberinya kemampuan bertindak tegas. Di pihak lain, untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Pak Harto selalu siap untuk “momong” dengan penuh kasih saying kepada seluruh anak bangsanya.

Kalau hari ini kita bicara masalah filosofis nasionalisme dan Pancasila, sekaligus mengkaitkannya dengan globalisasi, kita kembali ingat kepada kedua pemimpin besar kita, Bung Karno dan Pak Harto, bagaimana menanggapi masalah tersebut. Bung Karno sangat terkenal sebagai pemimpin yang non-kompromis. Pak Harto selalu percaya dan berusaha memberdayakan anak bangsanya untuk menjadi anak bangsa yang mandiri. Pertanyaan yang mendasar apakah pesan-pesan dan rumusan dari Founding Fathers itu masih relevan. Kalau tidak, apa lagi yang perlu kita kembangkan. Kalau melihat sejarah kenegaraan kita pesan dan rumusan itu masih sangat relevan. Bukti-bukti penyimpangan elama ini selalu berakhir dengan khaos. Karena itu, kalau hari ini kita membatasi diri pada diskusi masalah falsafah dan kemungkinan pengembangan struktur dan langkah-langkah menghadapi globalisasi, kami harapkan diskusi selanjutnya menyoroti upaya mendaratkan Pancasila lebih konkrit. Pembicaraan topik-topik yang lebih konkrit itu sangat penting, karena ada tuduhan bahwa elite politik pada awal reformasi, terangsang eforia reformasi mencoba memisahkan diri dari masa lalu, melupakan semangat nasionalisme yang oleh Founding Fathers diramu melalui persatuan dan kesatuan dengan sabar. Ada kecenderungan setelah dilakukan amandemen UUD 1945, implementasinya melupakan pesan semangat musyawarah untuk mufakat yang dengan jelas mewarnai gerakan Kebangkitan Nasional seratus tahun lalu. Kita cenderung menerima system demokrasi liberal dengan pendekatan konflik yang sangat berbeda dengan semangat yang terkandung dalam Pancasila yang menganut penyelesaian masalah melalui musyawarah untuk mufakat.

Oleh karena itu, kami mengajak Saudara sekalian berdiskusi secara professional dan obyektif dalam Seri Diskusi yang diselenggarakan oleh Nusantara Institue sambil merenungkan ajakan Bung Karno untuk tidak saja banyak bicara, tetapi juga banyak bekerja. Kami menambahkan bahwa disamping banyak bicara dan banyak bekerja, marilah kita bersama-sama mengajak masyarakat menikmati sakralnya persatuan, kesatuan, nasionalisme dan Pancasila, bukan hanya karena keindahannya yang filosofis dan abstrak. Masyarakat biasa, masyarakat awam, bisa berpartisipasi untuk melepaskan diri dari kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan. Marilah falsafah yang demikian anggun itu kita jabarkan secara obyektif sesuai pesan-pesan Founding Fathers yang menjadikan Pancasila sebagai Dasar Proklamasi Kemerdekaan NKRI agar rakyat banyak makin percaya diri dan mampu bersama-sama membangun dalam suasana persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang tinggi menjadi bangsa yang lebih bahagia dan sejahera, lahir dan batin.

© 2013 iPRESS. All rights resevered. Designed by Templateism